โTidak ada pembagian khusus. Hanya saja tahun ini di Panti Gantung juga mengadakan, jadi jamaah terbagi secara alami,โ ujar Suhardi.
Perbedaan waktu pelaksanaan Idul Fitri antara Muhammadiyah dengan pemerintah dan organisasi Islam lainnya kembali terjadi tahun ini.
Namun, hal tersebut tidak mengurangi nilai kebersamaan di tengah masyarakat.
Suhardi menegaskan perbedaan ini sudah menjadi hal yang biasa dan masyarakat tetap menjaga sikap saling menghormati.
โYang penting kita tetap rukun dan saling menghargai. Selama ini tidak ada masalah,โ katanya.
Perbedaan penentuan Idul Fitri terjadi karena adanya perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal.
Di mana perhitungan astronomi yang menetapkan awal bulan baru ketika posisi bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, meskipun belum terlihat secara kasat mata.
Sementara pemerintah melalui Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode rukyat hilal yang dikombinasikan dengan hisab, yakni dengan menunggu hasil pengamatan langsung terhadap hilal di lapangan sebelum menetapkan awal bulan.
Perbedaan metode perhitungan bulan inilah yang kemudian menyebabkan seringnya terjadi perbedaan waktu dalam penetapan Idul Fitri, Ramadhan atau Idul Adha.
Meski demikian, Suhardi menekankan perbedaan ini tidak perlu menjadi perdebatan, melainkan harus disikapi dengan bijak.
โPerbedaan ini sudah biasa. Yang penting kita tetap menjaga persatuan dan saling menghormati,โ ujarnya.















































Komentar