“Saya berpikir, kalau hanya di satu sektor saja akan sulit bangkit. Saat itu kita upayakan sektor pertambangan dan pariwisata yang sama-sama berjalan bisa bangkit. Dalam benak saya, jika pariwisata naik tambang kita turunkan, tapi tidak bisa seperti itu,” katanya.
Menurut Djoni, ada tiga hari raya yang berpengaruh besar terhadap ekonomi masyarakat yakni Tahun Baru, Imlek dan Idul Fitri dimana potensi ekonomi hanya timah tidak ada yang lain.
“Hasil ferivikasi di lapangan, kondisi saat ini timah susah untuk dibeli. Bagaimana solusinya, bagaimana timah masyarakat bisa dibeli. Apalagi ekonomi stagnan, tidak ada pertubuhan ekonomi, daya beli lemah, apa yang bisa dibantu pemda. Maka lewat regulasi, komunikasi,” katanya.
Menurut Djoni, booming pariwisata tahun 2015-2016 untuk penerbangan via Bandara H AS Hanandjoeddin ada 16 hingga 18 pesawat, namun pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Belitung hanya sekitar Rp100 miliar dan tahun 2016 hanya Rp130 miliar.
“Nah kalau seandainya pariwisata bisa menaikan PAD, kita buat PAD Rp200 miliar lebih, kita sama-sama berusaha bisa tercapai atau tidak dengan target itu. Karena kalau tidak ada fiskal, kita tidak bisa membangun Belitung dengan baik. Sehingga tidak boleh ada anggaran bocor,” katanya. (bilitonnews.co/tedja pramana)















































Komentar