Jejak Juliana Park di Tanjungpandan, Taman Bersejarah Era Belanda Kini Tinggal Kenangan

Foto kawasan Juliana Park di Tanjungpandan, Belitung dilansir dari buku Billiton 1952-1927. (Dok. Billiton 1952-1927/Nicolaus Lumanauw)

“Di samping dan belakang klinik tumbuh pepohonan yang sebagian masih bisa kita lihat sampai sekarang di sekitar Hotel Grand Tulip,” jelas pria yang akrab disapa Prof Nico ini.

Kini Tersisa Sepenggal Jejak

Seiring waktu, keberadaan taman kota di kompleks tersebut kini hanya menyisakan sebagian kecil.

Beberapa jejaknya masih dapat ditemukan di sekitar kolam renang, mess tempat peristirahatan gubernur, hingga kawasan Pantai Tanjungpendam.

Dahulu, kawasan tersebut merupakan bagian dari kompleks mess timah yang tertata rapi dengan konsep kota taman.

Namun kini, jejak Juliana Park kian tergerus perkembangan zaman.

Nicolaus berharap keberadaan Juliana Park dan nilai sejarahnya dapat dipertahankan serta diangkat kembali sebagai bagian dari identitas Kota Tanjungpandan.

Menurutnya, sebuah kota tanpa taman ibarat tubuh manusia tanpa hati dan sanubari.

Taman bukan hanya ruang terbuka hijau, tapi juga ruang sosial, ruang sejarah, dan ruang masa depan.

“Kami hadir bukan untuk mengeluh, tapi sebagai insan yang pernah tinggal di kota ini dan sebagai masyarakat Belitung, sudah semestinya ikut mengambil peran demi keberlangsungan kota dan peninggalan sejarah yang semakin terabaikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, taman bersejarah seperti Juliana Park berpotensi menjadi daya tarik wisata heritage di Belitung, melengkapi destinasi bahari yang selama ini lebih dikenal wisatawan.

“Taman-taman kota yang dirawat dengan sepenuh hati akan menciptakan kota yang bahagia. Taman itulah sesungguhnya ruang masa depan bagi anak cucu kita,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *