“Waving Hope”, Natal dari Tanah Mollo
Instalasi nativitas Indonesia diberi judul “Waving Hope” (Menenun Pengharapan), selaras dengan tema Yubileum 2025 “Peregrini in Speranza” atau Peziarah Pengharapan. Karya berukuran 135 x 135 x 65 cm ini dibuat dari kayu, kertas, kain tenun, dan benang.
Berbeda dari gambaran kelahiran Yesus di kandang Betlehem, Papermoon memaknai Natal dalam lanskap pegunungan batu Mollo, Nusa Tenggara Timur, di tengah kehidupan para perempuan penenun.
Mereka digambarkan sebagai sosok-sosok sederhana yang kerap terpinggirkan secara ekonomi, namun menyimpan kebijaksanaan, martabat, dan keteguhan menjaga alam serta budaya.
Romo Budi Subanar SJ, penggagas karya sekaligus Ketua Steering Committee delegasi Indonesia, menjelaskan bahwa narasi ini merefleksikan pesan inti Natal: kehadiran Yesus di tengah mereka yang kecil dan terpinggirkan, serta perjuangan mempertahankan tanah, air, hutan, dan identitas budaya.
Simbol Tangan Terbuka
Salah satu elemen utama instalasi adalah tangan-tangan terbuka yang menopang Keluarga Kudus. Bagi Maria, tangan melambangkan aksi dan kehidupan—tangan para penenun, petani, gembala, pedagang kecil, hingga orang-orang bijak yang datang membawa harapan.
“Tangan ini adalah simbol bahwa kebaikan selalu dimulai dari keberanian untuk bertindak,” ujar Maria.
Melalui simbol tersebut, karya Indonesia menegaskan bahwa nativitas bukan sekadar dekorasi religius, melainkan kesaksian tentang perjumpaan iman, keadilan sosial, dan keberlanjutan budaya.
Kolaborasi Seni, Akademisi, dan Diplomasi















































Komentar