Jika pers kerap disebut pilar keempat demokrasi, maka HPN 2026 menunjukkan pilar itu tidak rapuh meski tanpa sandaran simbolik.
Ribuan wartawan tetap bekerja, meliput, berdiskusi, dan saling bertukar gagasan. Tidak ada panggung kosong, yang ada justru ruang penuh cerita.
Menariknya, beberapa hari sebelum puncak HPN, wartawan juga terlibat dalam berbagai kegiatan kebangsaan.
Ini memperlihatkan peran ganda pers hari ini kritis sekaligus partisipatif, independen namun tetap terikat pada kepentingan publik.
Di titik ini, HPN 2026 menjadi pengingat bahwa bela negara bagi pers bukan soal baris-berbaris atau atribut, melainkan menjaga nalar publik tetap waras.
Saat acara usai, wartawan meninggalkan KP3B dengan liputan di tangan. Ada berita tentang pidato, tentang acara, tentang Serang yang menjadi tuan rumah.
Tapi yang lebih penting, ada catatan batin kolektif, pers Indonesia masih relevan, masih ramai, dan masih dibutuhkan.
HPN 2026 mungkin tidak menghadirkan sosok yang paling ditunggu kamera. Namun ia menghadirkan sesuatu yang lebih sunyi tapi penting, kesadaran bahwa pers tidak pernah berhenti bekerja, bahkan ketika panggung kekuasaan tidak sepenuhnya lengkap.
Dan barangkali, itulah makna paling jujur dari Hari Pers Nasional: pers hadir penuh untuk publik, dengan atau tanpa sorotan istana.
PWI Belitung Mengutus Empat Anggotanya
Peringatan HPN 2026 di Kota Serang, Provinsi Banten, menjadi ruang temu besar insan pers dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam forum nasional tersebut, wartawan Kabupaten Belitung turut ambil bagian, menegaskan posisi pers daerah sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem pers nasional.




























