Angka ini menunjukkan rasio indeks harga yang diterima nelayan masih lebih tinggi dibandingkan pengeluaran sehingga secara umum nelayan masih berada pada kategori sejahtera.
Sementara itu, sektor perikanan budidaya justru mengalami peningkatan signifikan.
Nilai Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) pada 2025 tercatat mencapai 120,78, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 105,56.
Ade menegaskan Dinas Perikanan Kabupaten Belitung terus mendorong peningkatan sektor budidaya ikan, baik dari sisi sumber daya manusia, kelembagaan, maupun teknologi akuakultur.
Salah satu fokus utama adalah pemenuhan kebutuhan pakan ikan yang saat ini menyerap 60 hingga 80 persen dari total biaya operasional budidaya.
“Jika kita mampu menekan biaya pakan, maka keuntungan pembudidaya akan meningkat signifikan. Karena itu pada tahun 2026 kami akan fokus memperkuat kemandirian pakan buatan bagi Pokdakan (Kelompok Pembudidaya Ikan),” kata Ade.
Ia menambahkan, tantangan utama budidaya ikan saat ini adalah pasar ikan kerapu budidaya yang masih terkendala ekspor.
Pada tahun 2025, ekspor ikan kerapu hidup hanya dilakukan satu kali, jauh menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai lebih dari 10 kali ekspor.
Meski demikian, budidaya ikan air tawar di Belitung masih relatif stabil, meskipun terkadang terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan penyerapan pasar.
“Namun berbagai langkah antisipasi sudah diperhitungkan untuk tetap mendukung kesejahteraan para pelaku usaha perikanan,” ujarnya.
(Bilitonnews.co/Kamri)












