BILITONNEWS.CO โ Di tepi pantai Belitung, hidup bukan soal memilih, tapi bertahan. Matahari yang terik membakar kulit para nelayan, tangan mereka kasar dan retak, sementara garis-garis wajah menjadi saksi lelah yang tak pernah hilang.
Angin membawa aroma laut, namun juga mengguncang perahu reyot yang nyaris hancur. Hujan deras datang tanpa peringatan, menenggelamkan rumah papan, merendam pakaian, dan bahkan nasi seadanya di meja makan.
Anak-anak dan remaja yang seharusnya sekolah, kini ikut berjuang bersama orang tua. Mereka tidak bermain di pasir putih yang memikat turis, tetapi mengangkat jaring ikan, menjemur garam, dan menimba air dari sumur.
Sekolah hanyalah mimpi yang jauh, dan cita-cita menjadi guru atau dokter sering hanyut bersama ombak, tak pernah sampai ke tangan mereka.
Ibu-ibu duduk di tepi pantai saat senja, menatap laut sambil menahan air mata. Perahu suami yang pergi sejak pagi belum kembali.
Jika hari itu kosong, mereka hanya bisa menunduk, menyiapkan makan seadanya, dan memeluk anak-anak dalam malam yang basah dan dingin.
Hidup di pesisir Belitung adalah perjuangan diam-diam. Matahari, angin, dan hujan menjadi saksi bisu.
Namun yang mereka butuhkan bukan sekadar kesabaran atau doa. Mereka membutuhkan perhatian nyata dari program pemerintah daerah yang benar-benar sampai ke tangan mereka, dan bantuan pendidikan, akses air bersih, perbaikan rumah, pelatihan keterampilan, dan perlindungan bagi nelayan serta petani garam.
Mereka hanya ingin mimpi sederhana, anak-anak bisa belajar tanpa harus bekerja sejak dini, keluarga tidak lagi tidur dengan perut kosong, dan hidup di pesisir tidak selalu berarti berjuang sendirian melawan alam.

















































Komentar