“Ketika wisata masuk ke desa, UMKM akan bergerak, ada konsumen, dan roda ekonomi masyarakat ikut berputar,” katanya.
Meski mengakui keterbatasan anggaran yang dihadapi desa-desa, Djoni menekankan pentingnya menjaga kreativitas dan inovasi.
Ia menyebut kehilangan semangat dan daya cipta jauh lebih berbahaya dibanding keterbatasan dana.
“Kehilangan anggaran bukan yang paling berat. Yang paling berat adalah jika kita kehilangan kreativitas dan semangat. Itu yang tidak boleh terjadi,” tegasnya.
Bupati juga mengaitkan festival ini dengan visi Pemerintah Kabupaten Belitung untuk mewujudkan Belitung yang maju, berinovasi dan berkelanjutan sebagai kawasan maritim modern di wilayah barat.
Ia mengapresiasi penyelenggaraan Festival de’ Bellantu di desa yang dinilai mampu memicu perekonomian lokal melalui pemberdayaan UMKM, mempererat silaturahmi, memperkuat gotong royong, serta melestarikan budaya daerah.
Sepanjang tahun 2025, Pemkab Belitung telah menggelar berbagai festival tahunan yang menonjolkan pariwisata dan budaya pesisir, seperti Festival Pesona Belitung Beach, Festival Payung Lilin, Festival Batu Mentas dan Festiva Literasi Belitung.
Djoni berharap kegiatan tersebut menjadi pemicu bagi desa-desa lain untuk terus berkreasi dalam mengembangkan UMKM dan potensi lokal.
“Kuatan kabupaten dimulai dari desa. Mari berkolaborasi, memanfaatkan potensi lokal dan menjadi pendukung keberhasilan pembangunan daerah,” ujarnya.
Festival De’ Belantu sendiri menjadi wadah hiburan sekaligus promosi potensi lokal Desa Bantan dan wilayah Membalong.















































Komentar